Aku tidak tau mengapa mereka memandangku.
Bergerombol mengelilingi.
Tapi mana serupa aku?
Aku tahu beberapa mereka.
Dari kecil salah seorang mereka selalu bertatapan muka.
Mengajariku apa yang tak ku pahami.
Dimana mereka? orang-orang terdekatku?
______________________________________________________
KOKO
HINGGA LUPA
Masih teringat tawa renyah itu.
Bersenandung diantara getirnya hujan.
Petir petir membahana.
Menari melambai ditemani pohon pohon yang menjulang tinggi.
Aku pohon dan engkau petir.
Anak kecil di dalam hujan.
Bahagia bermain bersama air.
Mereka melihat. Muncul takut melihat engkau menari.
Berlari kencang ke arah penyayang. Benarkah sayang?
Sedikit sedikit, matahari menyeruak.
Menembus jendela jendela kering berdebu.
Hangat menyelimuti kulit yang tak beralas.
Seakan senang bermain di antaranya. Hingga lupa.
_________________________________________________________________________________
Listen : Alt-J : Something good
Orkestra Bambu-bambu
Ingatkah ketika bulan bulat-bulat berada tepat di bawah kita? Kala kau jentikan kaki kecilmu, lalu pura-pura berlari seakan aku akan segera mengejar?
Tidakah hirau kau dengan angin yang berhembus diantara bambu-bambu kecil. Seakan berorkestra dihadapan kita.
Namun tak acuh. Ketika itu, satu-satunya musik yang ada dipikiranku adalah tawa kecil yang berderai. Mengapa aku hanya tersenyum simpul? Harusnya kau lepas simpulnya.
Namun kau tetap saja berdengkang. Dengan kaki kecilmu, terus pura-pura berlari. Saat ini aku benar-benar akan mengejar.
Tertangkap? Kau cukup pintar memainkan kaki-kaki kecil itu. Seirama dengan tangan dan bibirmu.
Dan lalu. Kenapa harus ada dan lalu? Hanya ada dan. Aku dan tubuh kecilmu. Terapit dan terperangkap. Bulan bulat-bulat sebagai latarnya. Orkestra bambu-bambu sebagai musiknya. Dan derai tawa kecilmu adalah liriknya. Tidak ada lalu.
_________________________________________________________________________
Listen : Taste of Honey - Boogie Oogie Oogie
Pergi
Otak bermain mesin waktu menggunakan memori. Waktu yang jauh di belakang roda-roda berputar berirama. Setiap irama mencuri waktu dan tidak bisa kembali. Namun mesin waktu di otak bisa mencarinya. Mengembalikannya ke masa kini.
Ah! mesin waktu. Terkadang dirku heran dengan para ilmuwan pencari mesin waktu. Apa yang sebenarnya mereka inginkan? Menciptakan mesin dimana partikel-partikel tubuh benar-benar bisa melakukan perjalanan waktu? Mereka tak ingin urusan mereka dicampuri, tetapi bermimpi tentang mesin waktu. Ironis.
Aku tidak ingin kembali. Mengingatnya saja sudah muak. Namun otak ini terus saja bermain. Mengembalikan ibuku dan hari-hari sewaktunya. Bukankah semuanya sudah hilang? Lalu ilusi-ilusi apa yang diberikan oleh permainan mesin waktu ini. Ah! Saatnya aku pergi. Kemana aku pergi?
Kuputuskan untuk mendengarkan kata-kata mereka. Mereka bilang, banyak jalan menuju Roma. Tidak perlu cemas tersesat untuk sampai ke tujuan. Namun, Jalan mana yang harus di ambil?
Sesaat, otakku merubah permainan. Seiring bergantinya bunyi penarik perhatian. Musik dari Dusty Kid berjudul America. Otak ku bercenayang sekarang. Membuat ilusi-ilusi menyenangkan. Diriku berlari di tengah-tengah padang Rumput dan pada satu masa tiba, terhenti di tebing curam. Dalam pandangannku hanyalah lautan lepas. Bebas. Lepas. America.
Satu, dua, tiga kata-kata membentuk Ilusi-ilusi dari gambaran pengetahuan America yang diberikan mereka ke dalam otak ku. Pikirannku mengisyaratkan kalau aku ingin bebas terlepas. Nanti tiba menuju lepas, akan berada dimana aku? Perjalanan pergi kesana saja sudah menjengahkan.
Namun, ada satu titik dimana otak berhenti bermain. Hanya ada kini. Untuk kini, aku akan terus mengambil arah jalan ini dan terus menyusurinya. Jika takdirku adalah Roma, sesalah apapun jalannya, tetap akan sampai kesana. Namun, satu hal yang pasti. KINI aku akan pergi ke Roma.
______________________________________________________________________
Listen : Dusty Kid - America
Awal dan Akhir
Awal dan Akhir
Sesaat kupikir tidak terjadi apa-apa. Namun hentakan kereta dan bunyi-bunyinya yang bergesek kembali terdengar. Kereta sudah berjalan stabil. Dimana aku tadi? Sampai-sampai tak sempat bertemu dengan awal kereta melaju?
Tak sadar pula, wanita tanggung yang duduk di depanku memandangi dengan heran. Mulai sadar, Kupandangi pula dia.
“Kau baik-baik saja?” ucapnya. Aku mengangguk, canggung.
Dia mulai melepas earphone, bangkit dari tempat duduknya. Lalau membetulkan jaketnya dan beralih duduk disampingku. Aku membetulkan posisi.
Beberapa menit dia merogoh tas kecil yang entah darimana datangnya. Dikeluarkannya sehelai tisu dari dalam, lalu mengusapkannya ke kening. Turun ke arah bibir dan dagu. Agaknya aku tidak begitu memperhatikan detilnya dari awal bertemu. Namun sekarang aku berusaha untuk berkonsentrasi melihat dengan detil. Sampai ketitik terkecil darinya. Tubuhku semakin berkeringat. Ahh! usapan ini mengganggu. Lalu dia berhenti.
Ditatapnya mataku tajam. Tajam. Lama dan setelah itu ia seakan mengerti.
“Tak perlu cemas. Aku ada disini menemanimu.” ujarnya kepadaku. Didekatkannya tubunya,dan disandarkannya kepalanya di bahuku.
Beberapa saat, tak terdengar lagi bunyi kereta. Tak hirau berada dimana. Acuh dengan kerata apa. Diantaranya, pikiranku tertitip dalam lajunya kereta. Mulai pula kurangkul badannya yang kecil. Perlahan-lahan pandanganpun menutup. Tak peduli dengan setelah ini.
Lalu setelah itu?
______________________________________________________________________
Listen: Rihanna - Stay
Awal dan Akhir
Dari gelap. Cahaya berdatangan menyerusuk masuk ke dalam pupil berebutan. Aku terdiam beberapa saat. Mengerenyitkan kening, mengusap mata. Perih. Perasaan takut mengetuk, namun tak kubiarkan masuk. Dimana aku? Lukisan-lukisan di dinding bergerak ke samping kanan. Membentuk garis-garis lurus berwarna. Namun ada yang aneh dengan bunyi-bunyi yang dikeluarkannya. Oh! Aku tau dimana sekarang. Tubuh kaku ini tengah duduk didalam gerbong kereta api yang melaju.
Mulai kulihat sekeliling. Lampu gerbong menyala berbinar. Beberapa saat, kurasa lampu itu tak menyala sebelumnya. Mungkin cahaya percuma, karena terlalu banyak cahaya masuk ke dalam pupil dan bermain dengan pikiran yang bodoh. Kulihat lagi sekeliling.
Tepat dibawah lampu gerbong, duduk pria tua. Kepalanya bersandar ke tongkat yang dipegangnya. Kedua belah tanggannya mengalasi. Matanya terpejam. Kupandangi beberapa saat. Lalu kubiarkan saja, dan melanjutkan melihat. Tak ada apa siapa lagi selain kursi-kursi kereta yang kosong.
Laju kereta perlahan melambat. Decitan roda-roda besi yang bergesek terdengar sayup-sayup. lalu semakin kencang. Ku arahkan pandanganku keluar jendela. Tampak kereta berhenti di stasiun entah apa. Ramai orang berlalu lalang. Namun tanpa suara. Aneh. Apa yang terjadi diluar sana?
Pintu gerbong membuka. Menyilahkan masuk seorang wanita tanggung. Wanita tanggung bercelana jeans dan kaos putih. Lekukan badannya tersembunyi oleh Jaket yang dipakainnya selutut. Tidak! Sedikit diatasnya lagi. Sebentar dia melihat kesekeliling. Acuh, dia duduk tepat dihadapanku. Sejak awal earphone sudah tersangkut ditelinganya. Konsentrasinya mungkin ada pada lagu yang didengarnya. Sangat keras. Sampai aku mendengar sebagian lirik dari senandungnya.
The Time will come...
If you let it be right, If you let it be right...
Kereta belum juga berjalan.
________________________________________________________________________
Listen : Mumford and Sons - Lovers' Eye
Melodi
Dirinya berlari menjauh. Kukejar dan terkejar. Tawa liciknya bermain. Menoleh muka lugu namun penuh pilu. Kuraih tangan dinginnya. Lembut bagaikan ukiran Angelo. Kutarik, dan kudekap. Nyata dalam dekapan.
Seakan tak mau pergi. Rasa terus mendekap erat-erat. Tak mau dilepas. Semakin erat. Angin bersiul, burung pun terdengar bersenandung.
Senandung. Melingkar. Spiral. Tawa-tawa licik.
Senandung. Berwarna. Bermelodi.
Senandung.. dan Lalu mati. Diam. Hening.
Apa aku ini?
Emmahaven 1899
Lengkingan cerobong uap selalu menarik perhatian. Bunyi nyaringnya memantra kaki-kaki untuk berlari mendekat . Bak dipanggil tuan-tuan londo, Aku berlari secepat mungkin. Melihat kapal uap yang telah selesai bermuatan. Tentunya Abak dan kerabat kampung telah selesai bekerja. Memuat kopi ke dalam kapal uap nan dibawa pergi ketengah lautan. Entah kemana.
Tuan-tuan londo berseragam mahal, tampak bergegas turun dari bendi. Beralih berlari menuju kapal. Ingin pula rasanya mencoba masuk ke dalam kapal uap yang sudah beberapa lama, rutin aku saksikan dan dengarkan. Lengkingan cerobong asapnya yang indah. Gerakannya yang anggun menjauh menuju hilang. Namun bagaimana mungkin. Aku anak budak tukang angkut kopi, yang setiap harinya dihardik. Oleh tuan-tuan londo dan mandor-mandor pribumi nan berlagak bak berkulit putih pula.
Emmahaven terasa kosong. Hanya kapal uap melengking ini saja yang memenuhi otakku. Tak ada lagi geretak bunyi bendi-bendi berlalu lalang. Suara bising, hardikan, celotehan para budak, cino, dan tuan londo. Seperti biasanya.
Kapal kembali melengking, dan perlahan-lahan mulai bergerak. Melepaskan sandaran di bahu Emmahaven. Tiap kali dan hari, perasaan ini turut pula melengking. Berteriak kencang. Bertanya mengapa aku tak bisa ikut bersama Apa mungkin karena kulit coklat legam dan pakaian goni. Entahlah. Semakin besar jarak kapal denganku, semakin besar pula inginku untuk berada di bawah kepulan-kepulan asap. Cantik.
Tak berdaya sekarang. Apa yang salah? Mungkinkah esok, esok dan esoknya lagi berdaya? Aku manusia lemah.
Hanya harapan yang tersisa kuat. Tak pernah jatuh. Tertancap kokoh bagaikan Pulau Apenberg di sebelah sana. Kaki kaku terdiam. Kulit coklat berpacu menjadi hitam. Tetap tinggalah aku dan Pulau Apenbergku. Bekal untuk esok hari lagi.
______________________________________________________________________
Listen : La Chanteuse Claudia - Surabaya Johnny
Kabur
Dulu dirinya pernah tau. Pernah dengan sangat lantang menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang wanita muda berbando ungu. Jelas. Dia memandanginya, kabur. Gambar tua dibingkai kayu motif. Dirinya berusaha mendekat. Kaki-kaki keriput tak mau berkompromi. Memang tak mau berkompromi. Cemburu dengan keberadaan roda-roda besar yang diduduki tuannya. Namun tangan-tangan masih mau membantu dengan menggulir para roda. Agak jelas dilihatnya. Wanita berbando ungu. Dengan bibir merah meruput ke atas. Tersenyum manis.
Dirinya ingin pula tersenyum manis. Namun kali ini pikirnya tak mau berkompromi. Kabur. Semua kabur. Senyuman manis itu. Seperti apa lihatnya. Seperti apa wujudnya. Bagaimana dia meruput. Apa?
Pikirnya bertanya, dan pikirnyapun berusaha menjawab. Bingung. Lalu bagaimana? Apa?
Namun ada sesuatu yang bergejolak. Begitu gampang terasa. Seakan aliran darahnya merambat cepat bak kacam disirami asterix. Merambat ke hati. Memandangi senyuman manis itu. Badanya bergeming. Siapa?
Mungkin kaca-kaca sudah kabur. Kenangan-kenagan sudah membeku mengeluarkan embun. Kabur. Tak nampak jelas apa yang ada dibaliknya. Namun hatinya masih merasakan getar melihat senyum manis. Bibir merah meruput. Apa yang hilang? Apa yang pergi? Pria lunta.
____________________________________________________________________
Listen : Lianne La Havas - Gone
Terowongan Gila
Hah.. Hahh.. Hahh...
Hembusan nafas bermain dengan gema. Degap jantungnya melawan kedinginan yang mulai menggerayang. Sudah dua hari dia bermain dengan gelap. Buta dalam berjalan. Berarah.
Masih membekas diingatan. Dua hari lalu kecemasannya memutuskan untuk masuk ke dalam terowongan di bawah bukit yang mengelilingi kampung. Terowongan keramat. Para tetua kampung berulang kali menyebut pantang untuk lalu dan masuk kedalammnya. Konon katanya, jika ada yang masuk ke terowongan itu, maka dia akan keluar menjadi gila.
“Gila! Gila! Apa aku sudah menjadi gila?”
Bulu kuduknya berdiri, aliran air matanya sudah berserakan. Dia menangis, meringis, lalu tertawa, tersenyum. Gila! Dia lanjut berdiri, berjalan. Jantungnya masih berdegup. Dingin masih menusuk-nusuk kulitnya. Dan gelap masih menjadi teman bermainnya.
Masih membekas diingatannya yang agak gila. Goyangan badai besar yang menari-nari bagaikan tarian Musulele di kampungnya. Orang tua, saudara, harta benda, semua hilang. Hancur. Terbang bersama badai. Hanya dirinya yang masih bertahan.
“Oh! Andai saja aku tidak masuk ke terowongan ini, mungkin aku sudah bersama mereka. Hancur. Hilang. Terbang bersama badai. Lebih baik daripada sendiri. GILA. GILA. Hahaha...!”
Dia mulai menghilangkan gontai dilangkahnya. Berlari. Berlari dengan modal gila. Tertawa. Tersenyum. Meringis. Menangis. Gelap. Dingin. Berlari terus berlari. Dia tidak mau bermain lagi dengan gelap. Gila. Pikirannya sudah campur aduk. Cemas. Sedih. Sepi. Tambah Gila.
Dia berhenti berlari. Sayup-sayup terang merenggut gelat. Dari kejauhan. Jantungnya semakin berdegup. Tawanya semakin keras. Dia berlari dan terus berlari untuk memeluk terang. Terang. Terang. Sampai Terang.
Dia sudah bersama terang sekarang. Tawanya membahana keras. Lantang. Cepat dan tak mau berhenti. Tertawa. Tertawa.
HAHAHAH....!
Dia tetap gila.
_________________________________________________________________________
Listen : Tiesto - Maximal Crazy
Manusia-manusia Papah
Tak selamanya takut itu gelap. Bisa saja terang-benderang juga takut. Lihat saja mereka. Mereka tidak bisa membedakan terang ataupun gelap dengan rangkulan dan belaian lembut berkeliling. Kadang terdengar sayup-sayup suara terkikik bak petir. Tetap saja mereka bisa melaju terus dan terus. Aku dan kamu bisa terpana dibuatnya. Coba saja kau lihat. Tak perlu mengintip.
Tapi bagaimana jika rangkulan-rangkulan itu tiada? Tidak akan ada cahaya, harum, genggaman, dan petak-petak yang mereka impikan. Mereka lemah. kamu dan aku pun lemah. Kita lemah. Kau saja yang tidak menyadarinya. Namun cobalah percaya bahwa semuanya lemah. Apa yang lebih kuat daripada tuhan?
_____________________________________________________________________________
Listen : Bjork - Human Behaviour (LeFrench Touch)
Suatu Ketika di Akhir Agustus
_______________________________________________________________________
Listen : Charles Trenet - La Mer
Malas
__________________________________________________________________________
Listen : Micky Blues - Shake, Rattle, and Roll
Hitam Putih Pelangi
___________________________________________________________________________
Listen : Nina Simone - Just in Time
Nyanyian
Raja Laut
"Apa yang telah terjadi?" tanyaku kepada kawanku yang ternyata sudah dari tadi berdiri di depan menyaksikan kericuhan.
"Lelaki gila itu memukuli seorang pengunjung pantai dengan kayu besar ditangannya."
"Kenapa dia memukulnya?"
"Entahlah, yang jelas lelaki gila berbahaya ini sekarang akan segera dibawa ke penampungan agar tidak membahayakan pengunjung pantai lagi"
"Mengapa orang gila dibiarkan saja berkeliaran di sekitar pantai." Kataku heran.
Kami berdua terdiam menyaksikan lelaki gila ini berteriak-teriak dan memaki pemuda yang dipukulnya dengan sebutan penghancur kerajaan. Lelaki gila itu masih dipegangi oleh petugas pantai. Sementara petugas pantai lainnya membawa pemuda yang dipukulinya untuk diobati. Beberapa saat, mobil dari rumah sakit jiwa daerah sudah mulai memarkirkan mobilnya dengan cepat di jalanan depan pantai dan petugas rumah sakit segera menahan lelaki gila itu.
Sewaktu hendak memasukannya ke dalam mobil rumah sakit, lelaki gila meronta dengan sangat kuat sehingga para petugas yang memegangginya terjatuh ke pasir. Lelaki gila terlepas dan segera berlari ke arah laut. Semua orang didekatnya berteriak ketakutan.
"Aku adalah raja laut, tidak ada yang boleh menghancurkan kerajaanku." teriak lelaki gila di tengah laut dengan sangat lantang. Sampai akhirnya teriakan itu melayu dan menghilang karena obat penenang yang disuntikan oleh petugas rumah sakit ke tubuh lelaki gila. Aku, kawanku, dan orang-orang dengan diam menyaksikan peristiwa tersebut.
Setelah lelaki gila dibawa ke penampungan, keadaan pantai kembali seperti semula. Orang-orang mulai kembali asik menikmati laut. Kawankupun kembali menceburkan dirinya ke air. Petugas pantai yang memegangi lelaki gila tadi tampak membersihkan pasir dari ceceran darah dengan menimbunnya dengan pasir lagi. Dia memandang jauh ke arah laut. Tatapannya tampak kosong. Sepertinya kejadian tadi masih dipikirkannya.
"Mengapa dia memukul pemuda itu?" tanyakau kepada petugas pantai yang tampak kaget mendengar suaraku.
"Oh..sepertinya kau masih penasaran dengan peristiwa tadi." jawabnya sambil tersenyum
"Begitulah, sangat aneh ada orang gila dibiarkan berkeliaran di pantai ini. Bukan begitu?"
"Mungkin dia memang gila, tapi mungkin dia lebih waras dari kita semua." petugas pantai itu menghela napasnya dan terus menatap laut seperti sebelumnya.
"Maksudnya? Sebenarnya apa yang telah terjadi?"
"Pemuda itu dipukul dengan kayu oleh lelaki gila tadi karena membuang puntung rokok ke laut."
"Lalu kenapa dia memukulnya?"
"Karena pemuda itu dianggap telah merusak kerajaannya. Laut dianggap kerajaan olehnya. Dia begitu cinta dengan laut"
"Karena itukah dia memaki-maki pemuda itu dengan kata 'penghancur kerajaan'?"
"Ya. Dia memanggil dirinya dengan sebutan 'Raja Laut'. Dia tidak akan memukul jika orang-orang tidak mengotori dan membuang sampah ke laut ini. Bukankah sangat tidak baik jika kita memisahkan seseorang dengan apa yang dicintainya? Dia begitu mencintai laut. Kebanyakan orang sudah tidak peduli lagi dengan laut dan mengotorinya."
Aku terdiam mendengar ucapannya. Agak sedikit malu. Mungkin karena itulah menagapa lelaki gila itu dibiarkan berkeliaran di pantai ini. Karena kecintaannya kepada laut Lelaki gila itu tidak akan berbahaya jika semua orang yang ada di pantai ini juga mencintai laut dengan tidak mengotorinya.
"Baiklah. Kalau kamu sudah tidak penasaran lagi, aku akan kembali ke pos." Kata petugas pantai sambil melirik ke arah jam tangannya.
"Baiklah, selamat bekerja!"
"Selamat berlibur. Tetap jaga kebersihan pantai." kata penjaga pantai sambil tersenyum dan berlari kearah posnya.
Aku masih berdiri disana, memandangi laut yang ada di depanku. Mungkin benar kata petugas pantai. Dia lebih waras dari kita semua. Lelaki gila yang menganggap dirinya 'Raja Laut" itu setidaknya menjaga laut dengan kegilaanya. Dan sekarang, Raja laut sudah tidak bisa menjaga kerajaanya yang sangat indah dan menawan seperti yang aku pandangi sekarang.
____________________________________________________________________
Listen : Eight Belles - Great White Sea
Hitam Putih Pelangi
"Tumben ya, Hari ini turun hujan." Kataku membuka pembicaraan dengan agak canggung. Dia hanya diam. Tidak menjawab. "Haloo....Apa ada orang disini?" Teriakku pelan. Teriakan itu cukup mengagetkannya. Sepertinya ada sesuatu yang dipikirkannya. "Oh..iya, maaf saya tidak mendengar, kenapa?" jawabnya agak sedikit malu namun tetap saja raut wajahnya tidak berubah.
"Sudahlah!, tidak penting, sepertinya kau memikirkan sesuatu" jawabku. Dia diam dan memalingkan wajahnya ke jalanan.
"Ngomong-ngomong, terima kasih telah membantuku menyeberangi jalanan Akhir-akhir ini jalanan sangat ramai. " katanya sambil tersenyum ke arahku. Aku berbalik tersenyum.
"Kau mau ke arah mana?" Tanya gadis itu. Mungkin baru sadar kalau aku berjalan ke arah yang sama dengannya.
"Aku mau ke taman kota untuk beristirahat sebentar, kau sendiri?"
"Kerumah, 2 blok dari taman kota. Arah kita sama." jawabnya singkat dan kembali sibuk dengan dirinya sendiri.
Aku dan gadis itu berjalan dalam diam beberapa saat. Dia sibuk dengan pemikirannya, dan akupun malas mengganggu pemikirannya tersebut. Raut wajahnya tetap segelisah tadi. Agak tidak mengenakan berjalan dalam diam seperti ini, akhirnya akupun berusaha membuka pembicaraan lagi.
"Bagaimana lukisanmu? Kau sepertinya tidak menjual lukisan hari ini?" kataku
"Bagaimana kau tahu kalau aku menjual lukisan?" Jawabnya heran, setengah kaget.
"Aku selalu melihatmu dan lukisan-lukisanmu setiap pagi didepan flatku. Aku tinggal di Flat Tua tepat di depan tempat kau memajang lukisan setiap hari" jawabku
"Oh,,ya pantas aku seakan-akan pernah melihatmu. tapi aku tidak tahu dimana. Ternyata kau tinggal di depan flat itu" jawabnya
"Itukah yang kau pikirkan dari tadi?" kataku. Gadis itu tertawa kecil mendengarnya. Tawa itu sangat manis di wajahnya.
"Tentu tidak, aku tidak akan terlalu memikirkan hal itu TUAN" katanya sambil mengarahkan pandangan melucu kearahku. Akupun tertawa.
"Dari tadi kita belum berkenalan. Sampai-sampai kau memanggilku TUAN" kataku, tersadar kalau ternyata aku belum tahu nama gadis lukisan itu. Dia tersenyum.
Kuangkat tangan kananku kearahnya, "Aku Azul" kataku memperkenalkan diri ketika nada telpon genggamnya memecah suasana. Gadis itu terkejut dan segera merogoh tas yang dibawanya untuk mencari sumber nada dan mengacuhkan tangan kananku.
Dia segera mengangkat telpon genggamnya disaat tangan kananku mulai aku turunkan. Agak sedikit menjauh dariku, dia berbicara penuh konsentrasi dengan telpon genggamnya. Aku tidak tahu siapa yang menelponnya dan apa yang sedang dibicarakannya. dan memang aku tidak ingin mengetahui hal itu. Yang aku tahu, dia hanya mengacuhkan perkenalanku.
Raut wajah gelisahnya kembali muncul. Tampaknya, telepon itu salah satu penyebab timbulnya noda gelisah diwajahnya. Serta sebelum-sebelumnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Gadis itu hanya diam mendengarkan telepon itu. dan aku hanya diam menunggu dan memperhatikan gadis itu. Beberapa saat, gadis lukisan itupun memutuskan telponnya dan dengan gusar serta mata masih berkaca-kaca dia berpaling ke arahku. Akupun ikut gusar melihatnya.
"Maaf, Aku harus pergi sekarang. Terima kasih telah membantuku menyeberang" katanya sambil terburu-buru berbalik arah ke arah toko ritel.
"Hei tunggu..." teriakku kearah gadis itu. Tapi dia tidak mengacuhkan teriakanku. Mungkin pikirannya membuat teriakanku tidak terdengar. Dia terus berlari menjauh. Berlari diantara banyaknya orang-orang yang berada di trotoar. Berlari diantara pedagang kaki lima yang sibuk dengan daganganya. Bingung. Aku terus memperhatikan dirinya menjauh. Menjauh dariku. Mataku seakan terikat dengan gadis lukisan itu. Aku pandangi gadis lukisan itu sampai dia benar-benar hilang dari penglihatan dan menyatu dengan kerumunan.
___________________________________________________________________________
Listen : Jeanne Moreau - Jeanne La Francaise
Samudera Dua Hati
________________________________________________________________________
Listen : Lindsey Stirling - River Flows in You
Buku Kusam Setengah Berisi
Tahulah sepi itu kenapa. Ditengah ramainya pepohonan di hutan. Rumah itu seperti pendatang asing yang hampir dengan tegap berdiri. Tidak ada pendatang asing lain disekitarnya. Hanya ada dia dan pohon-pohon hijau yang menjadi penjaganya. Walupun pohon-pohon hijau sang tuan tanah, dia tetap menjadi penjaga pendatang asing itu. Memang sudah jalan hidupnya untuk selalu menjadi penjaga dan pembantu. Selalu dijajah pendatang asing. Semakin mendekat, rumah yang hampir dengan tegap berdiri itu ternyata sudah tidak tegap berdiri lagi. Sekali lagi waktu menunjukan taringnya. dan buku kusam lembaran setengah berisi berdiam di rumah tua itu. beserta pena hitamnya. sekarang dengan tulisannya.
Wajah putih pucat tak bergerak dan mungkin berekspresi, tertidur dengan tak teratur di rumah tua di hutan itu. Dikelilingi merah pekat berbau besi yang menyeruap dari pergelangan tangan kirinya, wajah putih pucat itu tampak kacau dan mungkin berekspresi. Ekspresi mati. Hanya ada dia sendiri di rumah tua itu beserta pecahan kaca yang entah pecahan apa dan ruangan yang begitu buruk lantak. Tampaknya salah satu pecahan itu merupakan seniman pembentuk ekspresi mati. Serta Buku kusam lembaran setengah berisi. beserta pena hitamnya. Sekarang masih dengan tulisannya.
Walaupun kusam dan bersahabat dengan butir-butir debu dan ditemani oleh pujangga berekspresi mati, buku itu tidak ikut mati. Tulisan-tulisan didalamnya akan terus bercerita mengenai rumah tua, hutan-hutan, buku kusam, pena hitam, wajah putih pucat, pecahan kaca, dan semua penyebab sepi. Pujangga berekspresi mati telah merangkai tulisan di buku kusam lembaran setengah berisi Gila dan berisi Mati. dan buku kusam lembaran setengah berisi gila dan berisi mati itu terus bermain dengan butir-butir debu dan waktu. Sampai sepi binasa oleh waktu, dan waktu ketika tulisan-tulisan itu terbaca dan dimengerti kembali. Beserta pena hitamnya.
___________________________________________________________________________
Listen : Angus and Julia Stone - A Book Like This