KOKO

2 Comments »


Aku tidak tau mengapa mereka memandangku.
Bergerombol mengelilingi.
Tapi mana serupa aku?

Aku tahu beberapa mereka.
Dari kecil salah seorang mereka selalu bertatapan muka.
Mengajariku apa yang tak ku pahami.

Dimana mereka? orang-orang terdekatku?

______________________________________________________


HINGGA LUPA

No Comments »

Masih teringat tawa renyah itu.
Bersenandung diantara getirnya hujan.
Petir petir membahana.
Menari melambai ditemani pohon pohon yang menjulang tinggi.
Aku pohon dan engkau petir.

Anak kecil di dalam hujan.
Bahagia bermain bersama air.
Mereka melihat. Muncul takut melihat engkau menari.
Berlari kencang ke arah penyayang. Benarkah sayang?

Sedikit sedikit, matahari menyeruak.
Menembus jendela jendela kering berdebu.
Hangat menyelimuti kulit yang tak beralas.
Seakan senang bermain di antaranya. Hingga lupa.

_________________________________________________________________________________
Listen : Alt-J : Something good



Orkestra Bambu-bambu

No Comments »


Ingatkah ketika bulan bulat-bulat berada tepat di bawah kita? Kala kau jentikan kaki kecilmu, lalu pura-pura berlari seakan aku akan segera mengejar?

Tidakah hirau kau dengan angin yang berhembus diantara bambu-bambu kecil. Seakan berorkestra dihadapan kita.

Namun tak acuh. Ketika itu, satu-satunya musik yang ada dipikiranku adalah tawa kecil yang berderai. Mengapa aku hanya tersenyum simpul? Harusnya kau lepas simpulnya.

Namun kau tetap saja berdengkang. Dengan kaki kecilmu, terus pura-pura berlari. Saat ini aku benar-benar akan mengejar.

Tertangkap? Kau cukup pintar memainkan kaki-kaki kecil itu. Seirama dengan tangan dan bibirmu.

Dan lalu. Kenapa harus ada dan lalu? Hanya ada dan. Aku dan tubuh kecilmu. Terapit dan terperangkap. Bulan bulat-bulat sebagai latarnya. Orkestra bambu-bambu sebagai musiknya. Dan derai tawa kecilmu adalah liriknya. Tidak ada lalu.

_________________________________________________________________________
Listen : Taste of Honey - Boogie Oogie Oogie
 

Pergi

No Comments »

Roda-roda berputar membentuk irama biasa. Gelapnya malam terpotong oleh sorotan dua lampu yang tajam mencuat kedepan. Kemana aku pergi? Masih bimbang. Tak ada yang benar-benar ingin kutuju. Besok tampak sangat jauh dan aku saat ini sedang tak bisa menjadi cenayang. Dari awal pergi, otak terus bermain dengan mainan kesukaanya. Memori. Ini semua salah memori.

Otak bermain mesin waktu menggunakan memori. Waktu yang jauh di belakang roda-roda berputar berirama. Setiap irama mencuri waktu dan tidak bisa kembali. Namun mesin waktu di otak bisa mencarinya. Mengembalikannya ke masa kini.

Ah! mesin waktu. Terkadang dirku heran dengan para ilmuwan pencari mesin waktu. Apa yang sebenarnya mereka inginkan? Menciptakan mesin dimana partikel-partikel tubuh benar-benar bisa melakukan perjalanan waktu? Mereka tak ingin urusan mereka dicampuri, tetapi bermimpi tentang mesin waktu. Ironis.

Aku tidak ingin kembali. Mengingatnya saja sudah muak. Namun otak ini terus saja bermain. Mengembalikan ibuku dan hari-hari sewaktunya. Bukankah semuanya sudah hilang? Lalu ilusi-ilusi apa yang diberikan oleh permainan mesin waktu ini. Ah! Saatnya aku pergi. Kemana aku pergi?

Kuputuskan untuk mendengarkan kata-kata mereka. Mereka bilang, banyak jalan menuju Roma. Tidak perlu cemas tersesat untuk sampai ke tujuan. Namun, Jalan mana yang harus di ambil?

Sesaat, otakku merubah permainan. Seiring bergantinya bunyi penarik perhatian. Musik dari Dusty Kid berjudul America. Otak ku bercenayang sekarang. Membuat ilusi-ilusi menyenangkan. Diriku berlari di tengah-tengah padang Rumput dan pada satu masa tiba, terhenti di tebing curam. Dalam pandangannku hanyalah lautan lepas. Bebas. Lepas. America.

Satu, dua, tiga kata-kata membentuk Ilusi-ilusi dari gambaran pengetahuan America yang diberikan mereka ke dalam otak ku. Pikirannku mengisyaratkan kalau aku ingin bebas terlepas. Nanti tiba menuju lepas, akan berada dimana aku? Perjalanan pergi kesana saja sudah menjengahkan.

Namun, ada satu titik dimana otak berhenti bermain. Hanya ada kini. Untuk kini, aku akan terus mengambil arah jalan ini dan terus menyusurinya. Jika takdirku adalah Roma, sesalah apapun jalannya, tetap akan sampai kesana.  Namun, satu hal yang pasti. KINI aku akan pergi ke Roma.

______________________________________________________________________
Listen : Dusty Kid - America