Suatu Ketika di Akhir Agustus

No Comments »

Suatu ketika di akhir bulan Agustus. Sore tampak kelabu. Disana. Di Jalan yang penuh dengan kendaraan yang menerobos kencang. Penuh manusia-manusia lata di kiri kanannya. Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan. Masing-masingnya. Semua hanya seperti gerakan lamban yang kosong. Senyap. Tak ada suara-suara berirama keluar dari mereka. Tak ada warna yang jelas terpantul dari mereka. Lambat, tenang dan bernyala garis. Semua samar.

Tidak begitu dengannya. Aku tahu setiap gerakan yang di buatnya. Setiap warna yang dipantulkanya. Setiap ekspresi di wajahnya. Helai rambutnya yang ditiup angin. Irama nafasnya yang tak teratur. Apapun darinya. Semua jelas. Aku berdiri di depannya bertatapan. Diantara kesamaran. Dia memegang tanganku.

Sepertinya ada aliran diantara tangan-tangan ini. Aku menjadi tahu apa yang dipikirkannya sekarang. Pikirannya jauh melayang ke waktu pertama kali kulihat tatapanya dari kejauhan. Waktu dimana sebelumnya aku tidak pernah tahu siapa dia. Kejadian-kejadian aneh kala itu. Dan setelah-setelahnya. Dan setelah-setelahnya. Begitu banyak hal. Akupun memikirkan hal yang sama. Dia tersenyum sekarang. Senyum simpul namun penuh makna. Matanya menatap jauh ke dalam mataku. Dia sedih. Aku tahu itu.

Aku paling benci tatapan itu. Tatapan yang seakan-akan dia tidak akan pernah lagi melihat ku. Tatapan penuh yang tidak pernah lepas dari mataku. Tapi bagaimanapun, Aku tidak bisa melepaskan tatapan itu. Tidak bisa mengelak. Apakah Aku juga menatapnya seperti itu? Aku tidak bisa melihat mataku sendiri. Kupeluk dia. Dia lebih memeluku erat. Perasaan apa ini? Badanya bergetar. Dia menangis sekarang.

Kendaraan semakin menerobos kencang didepanku. Dibelakangnya. Kendaraan yang melaju itu seperti jet tanpa suara. Jet yang membawa potongan-potongan waktu. Aku dan Dia. Mengapa harus sampai seperti ini. Aku benci dengan potongan-potongan itu. Potongan kesedihan, penyiksaan, murka, semua hal. Potongan-potongan waktu yang menyakitkan. Aku sakit. Dia pasti lebih sakit lagi. Lalu untuk apa senyuman simpulnya tadi? Aku masih dipeluknya erat. Aku tidak mau lepas. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku menangis sekarang.

Tubuh dan otak berhenti. Waktu berhenti. Angin berhenti. Semuanya berhenti. Dia menariku mundur terjatuh. Aku mendorongnya maju terjatuh. Aku dan Dia masih mendekap erat. Kendaraan yang menerobos kencang memental. Jet yang membawa potongan-potongan masa lalu itu menabrak Aku dan Dia. Tenang sekarang. Potongan-potongan menyakitkan itu tidak akan ada lagi. Tidak ada masa lalu. Tidak ada masa depan. Hanya waktu itu. Gelap. Cahaya berhenti sekarang.

Suatu ketika di akhir bulan Agustus. Tampak kelabu.

_______________________________________________________________________

Listen : Charles Trenet - La Mer

   

Malas

No Comments »

Kau tahu. Tidak ada yang benar-benar berarti akhir-akhir ini. Begitupun sekarang aku memulai hari dengan liur yang berdemcak di pipi. Agak sedikit menjijikan memang. Bangun pagi selalu mengepel pipi, dengan tangan pula. Tapi itu kuanggap tidak berlebihan. Toh setiap manusia mengeluarkan sekitar 700ml air liur setiap harinya. Kalo dibulatkan bisa menjadi 1000ml dan itu sama banyaknya dengan bensin yang digunakan untuk sebuah motor yang dipakai 6 jam tanpa henti. Agak bodoh memang.

Beranjak dari tempat tidur, matahari sudah bulat-bulat muncul ke permukaan. Dengan langkah bernada malas, aku pergi mencuci muka dan gigi. Ritual yang sama setiap harinya. Seperti biasa. Kau tahu itu.

Telur mata sapi, segelas susu, dan sepotong roti selesai aku hidangkan. Untuk diriku sendiri tentunya. Sarapan tidak lengkap jika tidak mendengarkan informasi pagi. Mungkin saja Palestina sudah berdamai dengan Israel. Aku akan mencari lihat, mencari dengar. Berita sama setiap paginya. Setiap harinya. Dan tentu saja Negeri Ginseng Utara masih bermain dengan nuklirnya. Membosankan. Satu potong, Dua potong. Satu suap, Dua suap. Minum sekaligus. Sarapan yang lezat. Aku yang membuatnya sendiri. Seperti biasa memang.

Aku putuskan televisi sudah tidak menarik lagi. Beranjak berdiri, kupilih-pilih buku yang berbaris rapi di rak baca. Buku yang ini sudah kubaca. Yang ini sudah, yang ini baru setengah, yang ini baru seperempat, yang ini belum dan banyak yang belum. Bimbang lalu menimbang. Sepertinya buku yang baru kubaca setengah akan kulanjutkan agar menjadi sudah terbaca. Sabar saja buku yang baru seperempat dan yang belum kubaca sama sekali. Hari masih panjang seperti biasanya. Aku berharap dan besok adalah giliran kalian tentunya.
Matahari masih bulat-bulat, namun sudah berganti posisi. Setidaknya masih belum berada di atas kepala. Aku punya banyak waktu untuk membaca buku yang baru terbaca setengah ini. Aku buka dan ku balik-balikan halaman per halamanya. Aku baca secara sepintas kalimat-kalimat terakhir yang kuingat sewaktu membaca buku ini di waktu biasa sebelumya. "Jangan kau dengarkan orang ini...." bukan. "Gadis kecil yang malang itu berlari..." tidak. Aku sudah melewatkan bagian yang ini. "Dia menangis tersedu di pelataran..." belum. Aku belum sampai pada bagian ini. Terlewati pasti. "Saliva tanpa sengaja bertemu dengan tuan ganda." YA!. Ini dia kalimat terakhir yang kubaca sebelumnya. Membetulkan posisi duduk, aku lanjut membaca kisah Saliva. Saliva? Hahahaha... aku baru menyadari kalau buku ini bercerita tentang Saliva. Bukankah Saliva nama lain dari air liur?

Suara kucing dari atas loteng yang bergelut meribut akan urusan perkucingan menyentak mata. Kucing sialan. Aku menyesuaikan diri dengan suasana bangun ketiduran. Sudah kuduga aku akan kembali tertidur membaca buku ini. Dan pastilah buku-buku yang lainya. Mengapa huruf-huruf terkotak rapi ini selalu membuat mataku terpejam dan malas. Mungkinkah karena buku? Memang seperti biasanya. Dan tampaknya urusan perkucingan sudah terselesaikan. Aku mengira-ngira urusan itu selesai sore hari. Sekarang pukul setengah empat. Aku memang selalu benar dalam mengira-ngira waktu. Karena memang seperti biasanya. Sekarang pastilah cacing-cacing di perutku meronta-ronta meminta makan. Aku benar lagi.

Memang begini nasib orang-orang yang cuti kerja. Berhenti kerja lebih tepatnya. Diberhentikan lebih tepatnya lagi. Membaca buku dan menjadi tertidur dan bangun dan makan sewaktu lapar. Aku tidak berhasrat untuk memasak makanan ku sekarang. Sebaiknya aku pesan saja. Sudah terlanjur lapar. Setidaknya tabunganku masih ada. Masih cukup. Benarkah cukup? Otakku tak bisa bekerja kalau sedang lapar begini. Ayam dan kentang goreng akan kupesan. Sekalian dengan Sup, untuk makan malam. Mudah-mudahan Sup-nya tidak dingin kupesan sekarang. Tapi bukankah baiknya Sup kupesan nanti saja? Memang otakku tak bisa bekerja kalu sedang lapar. Kupesan Ayam goreng, kentang goreng dan Sup. Sempurna.

Kenyang. Masih tersisa sup untuk nanti malam. Biarlah dulu sup itu di meja makan. Kenyang membuat badanku enggan untuk bergerak. Duduk sejenak menerwang, pikiranku mulai ke awang. Mengapa angin begitu sepoi? dan sepoi, dan sepoi, dan sepoi, dan sepoi.......

Matahari sudah hilang sewaktu aku terbangun lagi dari mimpi. Sayang sekali aku tidak bisa mengucapan selamat tidur kepada matahari hari ini. Hari-hari sebelumnya pun sepertinya tidak. Namun, aku setidaknya tadi bermimpi. Aku menjadi orang yang begitu sukses. Pekerjaan yang sibuk dan penghasilan yang sangat cukup untuk membeli rumah yang sangat besar. Tidak seperti rumah ini. Rumah kecil yang banyak kucing liarnya. Mengapa surat lamaranku tidak ada yang dibalas satupun?
Memang lebih baik menunggu saja. Aku tidak mau berepot meminta-minta pada kantor-kantor sialan itu. Balasan dari surat lamaranku. Sudah dua bulan memang. Tapi tetap saja Aku enggan. Nanti pada saatnya mereka juga akan membalas surat lamaranku. Aku yakin saja. Aku tunggu saja. Aku mandi saja sekarang. Menyergarkan badan dengan memberinya beberapa tetes air sangat nikmat. Seperti biasanya.

Sup sudah tentu saja dingin sekarang. dan tentu saja juga tidak akan enak lagi jika dimakan. Sial. Terpaksa aku makan saja sup dingin ini. Repot kalau harus memesan lagi. Lama juga tentu saja. Setidaknya aku bisa menghemat tabunganku. Searusnya memang begitu. dan kunyalakan lagi televisi. Informasi malam tentunya. Masih sama saja. Israel masih belum berbaikan dengan Palestina. Tapi biarlah. Setidaknya Aku jadi mempunyai kegiatan untuk mendegarkan kabar perseteruan mereka.

Begitulah sehari ini. Kau tahu. Hari-hari berikutnya juga akan seperti ini. Mudah-mudahan saja kantor-kantor sialan itu besok membalas surat lamaranku. Aku tetap akan menunggu saja dan sedikit berharap. Mangkok sisa Sup yang tidak habis aku letakan di tempat pencucian. Tidak enak makanya tidak habis. Besok pagi saja aku mencuci piring dan mangkok kotor ini. Masih banyak waktu tentunya. Dan waktu akhir-akhir ini benar-benar tidak berarti.

__________________________________________________________________________

Listen : Micky Blues - Shake, Rattle, and Roll
   

Hitam Putih Pelangi

No Comments »

Taman Kota

Mungkin hanya perasaanku saja. Atau memang taman kota tampak beda pada hari ini. Bunga mawar berbagai warna yang berbaris rapi di hamparan tanah tampak begitu indah dengan bulatan-bulatan air bening bekas hujan. Menjadikannya tampak segar dan indah. Aku berhela. Udara taman sangat tenang dan menyejukan diri. Ditambah dengan pancaran matahari yang sayup-sayup bergerak diantara ranting-ranting pohon yang bergoyang dengan angin terasa hangat di permukaan. Oh, betapa aku sangat mencintai suasana seperti ini. Mungkin memang sudah terlalu lama aku tidak merasakan perasaan seperti ini. Hal seperti ini. Aku tidak pernah punya cukup waktu untuk menikmati taman kota akhir-akhir ini.

Tidak begitu banyak orang menikmati taman kota pagi ini. Kulihat ada bangku taman yang kosong diantara hamparan bunga mawar. Aku menghampirinya dan duduk disana sambil meletakan barang belanjaan disebelahku. Suara gemericik air kolam masih terdengar sayup ditempat aku duduk. Ingin rasanya aku berada disini seharian saja tanpa memikirkan berbagai hal yang begitu menyita pemikiran.

Angin bersemilir. Duduk diam, Aku memikirkan gadis lukisan itu.

___________________________________________________________________________

Listen : Nina Simone - Just in Time

   

Nyanyian

No Comments »

Ia mulai melangkahkan kakinya menjauh. Kotor tanpa alas, melangkah tanpa punya arah. Tangan kasarnya terus memegang perutnya yang kosong. Semakin dekap. Semakin erat. Bibirnya pucat namun masih menyisakan sedikit warna. Merah atau muda, Entahlah. Hanya mata kakunya yang tampak penuh dengan warna kecamuk. Masih melangkah tanpa punya arah.

Kakinya terhenti. Diujung jalan dikeramaian penuh kebisingan. Bukan ramai yang membuatnya terhenti. Bukan pula bising. Keramaian dan kebisingan sudah lama mencampakkannya. Dentingan gitar yang bermain-main disekitar telinganyalah yang membuat kaki kecil kotor tanpa alas itu berhenti melangkah. Dentingan itu memainkan nada-nada lagu kesukaanya. Entah kenapa telinganya sangat nyaman dengan permainan nada tersebut. Nada-nada yang memainkan lagu kesukaanya. Nada-nada yang berasal dari dentingan sebuah gitar. Dentingan gitar yang tidak tahu darimana asalnya. Tapi ia mendengarnya. Tapi ia merasakanya. Terhenti.

Tangan kasar yang erat memegang perut dilepaskannya. Tangan-tangan itu mulai merentang di atas udara. Merasakan angin diantaranya. Warna kecamuk sudah hilang dari matanya yang mulai ditutup. Menutup dan merasakan. Bibir pucat yang menyisakan sedikit warna bergerak bermain mengikuti nada-nada. Tangan terentang, mata tertutup, Ia pun bernyanyi. Diujung jalan dikeramaian penuh kebisingan.

Cicak cicak di dinding
Diam- diam merayap
Datang seekor nyamuk
Hap! Lalu di tangkap.
...

Dia berputar dengan senyuman. Dengan mata tertutup. Dengan tangan terentang. Terus berputar. Terus bernyanyi. Denting gitar terus berulang. Nyanyiannya pun terus berulang. Hatinya sangat senang. Tidak ada yang peduli dengan hatinya. Tidak ada yang peduli dengan nyanyiannya. Terus bernyanyi sampai lupa akan merah atau muda dan warna kecamuk. Sampai terjatuh dalam hitam. Dan diam. Dia terjatuh sekarang.

Tubuh kecil dan kurus terlentang kaku diantara mereka. Namun ramai dan bising akan pasti masih mencampakannya. Tidak terlihat ribut antara keduanya. Hanya tubuh kecil dan kurus yang terlentang kaku. Dengan wajah yang sangat damai dengan air mata menghiasi pipi kotornya.